H Gourmet & Vibes

Sebuah restoran dan bar yang terinspirasi gaya klasik New York dan industrial style di kawasan Selatan kota Jakarta tampaknya menjadi pilihan yang tepat untuk hangout bersama kerabat dan keluarga. Dengan nuansa kota New York tahun tujuh puluhan yang hadir dalam desainnya, H Gourmet & Vibes tidak hanya ‘menjual’ makanan tetapi juga ambiance dan pemandangan skyline Jakarta pada satu sisinya.

2015-05-11 11.25.06

Gourmet merepresentasikan makanan yang disajikan dan Vibes merupakan representasi dari desain dan ambiance yang ditawarkan. “H merupakan huruf yang paling stabil, karena itulah kami menginginkan agar Gourmet dan Vibes itu seimbang seperti huruf H” jelas Rendra, anggota H group dan juga desainer interior dibalik berdirinya restoran ini.

2015-05-11 11.23.49Kesan pertama yang akan Anda rasakan setelah keluar dari lift adalah nuansa kemewahan yang muncul dari paduan ubin rose gold dengan lampu bergaya industrial. Jam besar di belakang bar yang menyuguhkan sunset menjadi tampilan ikonik yang memikat pandangan, serta lampu jalan khas kota New York menghadirkan nuansa dari kota itu. Material raw pada interior ruangan, serta padanan besi, kayu, dan corak lantainya memberikan kesan hangat dan meriah, dengan tambahan sinar lampu berwarna oranye. Tempat hangout ini juga menyajikan musik terpilih yang akan mendukung suasananya.

Berkapasitas kurang lebih 150 pengunjung, venue terdiri dari smoking dan non-smoking area. Pada sisi kanan setelah resepsionis, terdapat ruang tunggu yang juga menjadi daya tarik restoran dan bar ini karena posisinya yang bersebelahan dengan jendela dan terdapat neon lamp bertuliskan H Gourmet & Vibes dengan curly font unik. Tidak jarang area ini juga menjadi tempat duduk pilihan bagi pengunjung selain sebagai ruang tunggu selagi meja disiapkan.

2015-05-11 11.28.20-2

Phillycheese

Ada banyak restoran yang menyajikan steak, burger, dan lain sebagainya. Namun, southern American soulfood, yang menjadi tema yang ditawarkan H Gourmet & Vibes, luar biasa menggugah selera. Menu favorit yang menjadi pilihan pengunjung adalah Phillycheese, daging iga cincang sautéed minyak truffle dan lelehan keju. Selain itu, menu baru yang bisa Anda coba adalah Rick Reuben’s, roti dengan lapisan pastrami, salami, dan ham (beef/swine) dengan sauerkraut di tengahnya. Ragam minuman yang bisa Anda cicipi adalah kopi, teh, smoothie, cocktail, bir, dan beragam minuman lainnya.

teks dan fotografi oleh Muhammad Farhan Barona.

Advertisements

Beyond Celestial

What comes to your mind when you hear the word of outer space?

Back to university when I was eager wandering and wondering about anything including astronomy. I ever thought about something that comes up as– there are another sides of world, we may live in a different world of time and space. In this world, you know me as a me now and we know each other. In another side, I might be as someone you never know and met. You are pilot and I am the mechanics, or vice versa. I am a doctor and you are an architect. I am very poor and you are very rich. You are Asian and I am Caucasian. You are an English and I am an Arab. A trillion of possibility! Maybe.

Besides of the beautiful sky of night, space lies a lot of mystery. Our only Milky Way contains up 200 to 400 billion of stars. Are you sure we are alone? It’s also for sure, a tough job to answer how many galaxy in the rest of universe.

9073509449_263f21d16f_o

Pangrango Mount, Indonesia.

I love to read and watch about science fictions regarding this topic. After enjoying the imagination of the script writers, my journey of wandering to know the truth begins. First of all, God is my focus. I don’t do to disprove God, but another way around.

The latest favourite movie of mine is Interstellar, due to it’s closeness to the truth of science. From this movie, I can correlate between hadith and science. One example I’ll write here is the main focus of this movie, when Cooper communicates with Murph through gravity. After being sucked by the black hole Gargantua, Cooper stucks in tesseract (–four dimensional space) at the back of his daughter bookshelf. Since he passed the event horizon inside the black hole when everything is impossible to go outside including light and wave, no radio signals could be sent out Gargantua. However, both communicate through the gravity when Cooper is able to move things from time to time, back and forth but remain at her daughter’s behind bookshelf.

In one of Rasulullah saying, Allah will be someone ears, hands, eyes, and his part of body if Allah loves him. This hadith is trying to tell us that Allah will guides us when He loves us. Allah will show us and move our body as a part of His guidance. The same like Cooper did to her daughter. The difference is, when Cooper is at four dimensional space inside Gargantua, he only can move things. Now imagine, if you you ever learn about the form of Allah, He is not in the dimensional form nor in dimensional space. Allah is not dimensional and different from us and we are unable to think by our logic of how the entity of Him. Could you now think about what Allah is able to do? More than Cooper can do to his daughter.

Scientists believe there are black holes out far away in the sky, where time and space are warped. No one could imagine what it looks like to be inside of them. What we can learn that, everything of Allah creations will lead us to Him. Allah has told us through ayat 176 in Al-A’raf (7) that we should use ‘Aql (intellect) to understand Allah’s sign and proof.

Back back back to years when Albert Einstein said about law’s of time warps, “Everything likes to live where it will age the most slowly, and gravity pulls it there.” Which means, the stronger gravity’s pull, the greater the slowing of time. This plays a big role in Interstellar movie. From this point of view, It’s not impossible that Rasulullah travelled to the seventh layers of sky in one night! There are so many possibility can happen out in the sky we see. We have used our ‘Aql to prove that Newton and Einstein is right about force and quatum. Now, especially as muslim, how to correlate and give sense between science and religion.

I never close my mind wanting to know more about the logic of space and probability about life, even though I am suck at math. Everything has been put on its place, and it’s not there as it there. There must be someone who makes and place it. The Maker. The Greatest.

Grown-Up

Being adult means that we have to take care everything by ourself. By doing things we like and dislike to achieve something we need. Schedule managing, problem solving, bill and tax payments, credits, rents, food, laundry, etc. Rolling..and rolling.

Otherwise we do something, everything stays put in its place. No more running, no more hiding, no more back up person-like a mother-who will put every single thing on its spot. We must do by our own way. I began to notice this situation would come is when I was sleeping in a sofa, and the next morning I still had been in the sofa. No more magic of closing your eyes in living room and waking up in a comfy bed with blanket on.

Days ahead are tougher. Learning to be doing something we never have done before. Learn to do, learn to finish, learn to keep doing, learn daily routine, learn being boring. In terms of daily routine, we may learn until it becomes a habit. However, how do we deal with feeling? The feeling of being an adult.

I seek literatures, arguments -supporting mind and feeling, and role models. All this materials come in mind as my standard. Then, they create me.. It changes the way I think, the way I live, every way of my emotions and minds.. The thoughts will keep growing as far as I keep holding on, and keep searching.

By the end of every time I am exhaust, I know something.. I’ve realised that being grown up means being real and honest to myself. About what I want, I want to be, what I feel, and who I am..

Whatsoever

There probably will come a time when every man afraid of approaching woman because they always have the same reason that, “you are too good for me” and “you are an asshole.”

Whatever.

Proses, Bukan Hasil Akhirnya

Penyesalan terbesar adalah ketakutan untuk mencoba. Kerap kali, ketakutan hadir tanpa dasar dalam sebuah keputusan untuk bertindak. Sebuah hasil akhir yang sempurna menjadi tujuan utama, mengaburkan kemungkinan-kemungkinan lain yang sebenarnya berpotensi sebagai pembelajaran. Paling tidak, ada suatu pelajaran selama prosesnya. Saat hasil akhir menjadi tujuan utama, perjalanan dalam pencapaian tujuan sering dilupakan.

Untuk mencapai puncak, hutan sebenarnya bisa menjadi bekal. Tergantung bagaimana memaknai hutan. Ada yang menganggapnya rintangan, ada pula sebagai kesempatan untuk mendapatkan berry liar. Jika puncak tak pernah digapai, paling tidak saat pulang siapapun bisa bercerita bagaimana wujud hutan, dengan berry liar sebagai bukti bahwa perjalanan ke puncak tidak sepenuhnya rintangan.

Jika selalu dihantui hasil akhir, tidak akan pernah ada proses berkembang. Diam di tempat bukan jawaban. Semua tindakan punya resiko masing-masing. Belajarlah menghargai proses, bukan hasil akhirnya. Dalamnya lautan, menyimpan banyak jenis mutiara. Jika tak pernah berselam, bagaimana kau tau ada apa disana?

Makanan Haram

Menghindar dari makanan haram bukan perkara mudah akhir-akhir ini. Muslim yang dari lahir sebagai Muslim, belum tentu sepenuhnya mengerti arti makanan halal. Muslim yang mencari tau, tentu memahami kadar suatu makanan dikatakan halal atau haram.

Selain babi dan alkohol adalah halal. Pernyataan ini umum, dan benar. Namun, dalam etika Islam penyembelihan hewan ada tata caranya. Selain dari cara tersebut, ayam pun bisa jadi haram. Proses penyembelihan, cara, serta kandungan rempah pada masakan menjadi poin penting dalam kriteria halal-haram suatu makanan. Sedikit apapun kandungan alkohol pada suatu makanan tetaplah haram.

Makanan yang secara umum dianggap halal.

Penyuka sushi misalnya. Banyak yang menyangka bahwa sushi halal karena isinya berupa ikan, nasi, dan sayuran. Pernahkah Anda menyelidiki restoran sushi favorit Anda mengenai kandungan cuka yang disajikan? Ada, ada restoran-restoran yang menyajikan sushi haram (pada cukanya) di Indonesia! Penyangkalan melalui ketidak-ingin-tahuanlah yang menjadikan Muslim begitu mudah mengonsumsi makanan tersebut.

Sama halnya saat membeli makanan di warung-warung makan. Secara default, tidak bisa kita dengan mudahnya menghalalkan makanan tersebut hanya karena yang dijual adalah selain babi dan alkohol. Proses penyembelihan serta cara pembuatan juga menjadi pertimbangan utama. Seperti yang saya tulis di atas, sekecil apa pun, tetap saja haram.

Peralatan masak bersama yang dipergunakan untuk memasak makanan yang secara default haram juga bisa menjadikan makanan dengan proses penyembelihan, kandungan, dan cara memasak menjadi makanan haram. Keterangan lanjut mengenai halal-haramnya suatu makanan bisa dipertanyakan langsung ke ulama atau mufti yang tau lebih banyak rinciannya.

Penetapan halal-haram memang bukan perkara mudah. Tidak semuanya bisa menetapkan hal tersebut. Namun ada kriteria yang Muslim wajib ketahui untuk menghindari diri dari makanan haram. Paling dasarnya mengetahui komposisi makanan dan cara pembuatannya. Satu hal yang perlu diingat, tidak semua ilmu di internet bisa dipercaya. Terlebih perkara fatwa dalam Islam. Seberapa banyakpun ilmu keislaman yang di dapat di internet tidak akan menandingi kemampuan ulama. Temui para alim yang lebih mengetahui, jadikan sheikh google hanya sebagai sekilas info.

Sisi Lain

Beberapa hari ini aku menyadari sesuatu yang belum pernah tersadar sebelumnya. Lahir dan besar dari pelosok negeri, meski di kota, aku tak pernah menginginkan freak untuk suatu kehidupan sosialita yang mendunia. Bangun dan berangkat untuk suatu tujuan, menghabiskan uang pada akhir minggu untuk brand ternama, atau mengejar sebanyak mungkin uang pada lima hari sisanya. Impianku hanya hidup tentram, dan terpenuhi segala kebutuhan. Cukup, dalam artian aku mendapatkan apa yang kubutuhkan dan mampu membeli suatu yang kuinginkan. Sialnya, bagi manusia biasa, aku tidak banyak menginginkan selain barang-barang kecil dengan selera diluar orang pada umumnya.

Ada seorang teman, tidak begitu kukenal wataknya, namun hidupnya diliputi dengan kesukaan barang ber-label. Tanpa menghujat atau menyepelekan, aku berusaha menyamakan apa yang Allah berikan pada kami ternyata sebuah ujian bagi masing-masing. Tujuannya, pengendalian diri dan kesabaran. 

Aku berharap bisa hidup di sebuah tempat dengan jumlah penduduk sedikit, tidak hedon, dan bersahaja. Kehidupan ini jauh dari masyarakat Jakarta. Meski aku sangat menginginkannya, sampai saat ini masih saja tertahan di kota ini. Sedangkan teman yang kusebut tadi, dia tertakdirkan untuk tinggal di pulau terpencil karena keharusan pengabdian. Kehidupannya diliputi pengharapan untuk menghabiskan akhir pekan di mal dengan layanan makanan dan teknologi masa kini, sedangkan aku mengharapkan duduk di pinggir pantai dengan buku dan batok kelapa berisi airnya—yang bisa ia dapatkan tiap minggunya.

Kehidupan kami terbalik. Kami diajarkan Tuhan untuk menghargai dan memahami posisi kami masing-masing. Ingat pada firman Allah, bahwa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut cara pandang Allah. Sebabnya, kedua dari kami mempunyai titik cobaan yang sama, yang harus dijalani dan dipahami maknanya. Sampai sekarang, aku kagum dengan cara Allah menyelamatkan hambaNya dari cengkraman dunia.

Bagi kami, posisi ini mengharuskan untuk melihat sudut pandang lain tentang dunia. Tentang bagaimana melihat dunia dengan cara pandang orang lain. Aku tidak terlalu tertarik dengan dunia, tapi aku harus memahami untuk apa dunia diciptakan, sejauh mana boleh menikmatinya. Bagiku, dunia diciptakan untuk manusia, tapi manusia tidak diciptakan untuk dunia ini. Mulanya kita berawal dari surga, dan surga adalah tujuan akhir. Kala aku tidak menyukai dunia, dunia menjadi ujian berat bagiku, termasuk godaan-godaan di dalamnya. Dan Allah memposisikanku di luar comfort zone yang aku impikan. Bersama orang-orang yang cinta dunia, pernak-pernik dan godaan dunia, wanita, pride, labels, uang, dan lainnya. Semuanya memuakkan bagiku, tapi ini ujian. Dan kau tau? Setiap ujian datang, bukan kah guru diam?