Mereduksi Angka Pertumbuhan Perokok Aktif

Tanpa melihat data pun kita tau pasti bahwa perokok di Indonesia sudah bertambah berkali-kali lipat. Dan yang lebih memprihatinkan adalah bahwa umur perokok semakin dini. Larangan merokok di tempat umum semakin banyak, namun industri rokok tidak semata-mata berkurang penjualannya. Masih ragam berkeliaran iklan rokok di media dengan sasaran anak muda Indonesia; menampilkan iklan tentang kreativitas dan kegiatan yang lazim dilakukan manusia berjiwa muda. Seolah-olah untuk tampil eksis, keren, dan berprestasi itu haruslah merokok. Sedihnya, karena pendidikan masyarakat yang masih sangat rendah, pun terlena dan menganggap benar hal tersebut.

Tercatat data dari Kementrian Kesehatan bahwa perokok usia 16 hingga 19 tahun meningkat tiga kali lipat di tahun 2014; dalam kurun waktu 9 tahun. Lebih menyedihkan lagi, perokok remaja rentang usia pelajar SMP bertambah 100% sejak 1995 hingga 2014!

Selain ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia, kita pun dihadapkan bahwa perilaku merokok ini juga menjadi kesenangan bagi penduduk dengan perekonomian rendah. Sadar atau tidak, setiap kegiatan pun ada uang rokok-nya yang perlu dikeluarkan. Dan itu tidak bisa dimasukkan ke dalam uang makan atau operasional lainnya. Hukumnya wajib diberikan kepada pekerja.

Pertumbuhan angka perokok semakin menghawatirkan. Selain membahayakan diri sendiri, orang sekitar pun mendapatkan dampak yang sangat buruk dari perilaku perokok. Masyarakat telah dibuat terlena bahwa merokok adalah hal lazim. Bahkan di pelosok negeri pun, pemuka agama yang kehadirannya sebagai panutan; juga merokok saat ada pertemuan penting keagamaan! Kelaziman terhadap asap dan bahaya rokok perlu dipertegaskan dengan kebijakan yang lebih ketat dan tegas.

 

Hindari satu keburukan untuk keselamatan yang berkelanjutan

Alihfungsikan Industri Rokok

Penambahan devisa tidak seberapa pentingnya dibandingkan kesehatan masyarakat. Berinvestasi ke kesehatan masyarakat lebih bisa memberikan dampak berkelanjutan yang berkualitas. Aset negara bertambah namun kualitas manusia yang berkurang akan lebih menghancurkan negeri ini. Penggunaan tembakau bisa dialihfungsikan ke dalam bentuk lain yang lebih kecil efek buruknya. Kekayaan industri rokok sudah sangat berlebih dan tidak sebanding dengan keburukan yang diciptakannya.

Persempit Ruang Gerak Perokok

Mulai dari instansi pemerintah hingga tempat umum seperti terminal dan bandara sudah ada ruang untuk merokok. Tapi bagaimana dengan halte, trotoar, angkutan umum berbasis swasta, lingkungan perumahan, pos satpam, dll? Ini bukan lagi menyadarkan perokok untuk insaf dan memberikan ruang untuk mereka, tapi kita perlu lebih; mengintervensinya, mempersempit ruang gerak. Bagi perokok pasif, banyak sekali yang merasa sangat terganggu dengan asap rokok. Berapa banyak dari perokok yang rela mematikan asap rokoknya saat melihat ada orang yang terganggu karena ulahnya? Sedikit sekali. Bukan hanya itu yang menjadi masalah besar, sampah yang paling banyak ditemui bertebaran di jalanan adalah puntung rokok. Ada banyak data pendukung yang menunjukkan keburukan dari puntung rokok.

Dengan menerapkan konsekuensi dan kebijakan yang nyata dan mempersempit ruang gerak maka akan lebih efektif untuk mengurangi angka pertumbuhan perokok.

Observasi Perokok Aktif

Di kota besar pasti mudah mendapati pengamen, pedagang asongan, pengemis, dan pedagang item homogen. Kecenderungan yang paling terlihat adalah beberapa dari orang-orang tersebut bukan hanya mencari nafkah untuk penghidupan, tetapi juga agar bisa merokok. Karena definisi merokok yang semakin lazim di masyarakat, barang ini sudah masuk ke dalam kategori kebutuhan primer sehingga agak sulit (bukan tidak mungkin) dihilangkan. Langkah yang bisa dilakukan adalah berhenti berbelanja kepada perokok. Tapi sebelum itu, perlu adanya observasi dan menghidupkan sense of awareness pada lokasi yang sering dilalui agar tepat sasaran. Cara ini memang terlalu ekstrim, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada beberapa orang yang bekerja demi bisa merokok. Bukannya tidak mendukung rakyat kecil, tapi perlu dipahami bahwa bersifat tegas dan disiplin itu perlu untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik.

Tunjukkan Sikap Terganggu

Menjadi pribadi yang empati adalah ciri orang baik. Tunjukkan ketidaksukaan pada asap rokok agar perokok mampu mengasah empati kepada yang bukan perokok. Kita hidup mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan udara yang segar, saat hak direbut maka harus ada sikap untuk mempertahankan hak tersebut. Toleransi itu bukan kepada perokok, tetapi kepada yang tidak merokok.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s