Refleksi Umur Dua-puluhan

tumblr_n86ll2CfEG1r4khpbo1_r1_500.gif

Sudah tak terhitung berapa kali aku bolak-balik toko buku dan portal-portal yang menyajikan jawaban tentang kekhawatiran akan kehidupan (life). Terlepas (baca: lulus) dari kewajiban menuntut ilmu hingga strata 1, jiwaku dipenuhi kegundahan dalam setiap waktu, dengan klimaksnya pada pembaringan di kasur yang mengurangi waktu istirahat dua hingga empat jam setiap malamnya. Setiap malam, pikiran bertumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar mustahil untuk dijawab.

Hingga umur menyentuh dua puluh lima tahun, baru kali ini bisa menyimpulkan (bisa bersifat sementara) bahwa hidup adalah sebuah pengembaraan. Kupikir awalnya pencarian jati diri itu sudah selesai hingga umur delapan belas tahun. Ternyata aku salah. Problematika di umur dua-puluhan lebih kompleks dari yang diduga. Ditambah dengan segelintir tanggung jawab untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. Karena inilah aku mulai mereduksi hal-hal yang bersifat egoisme pribadi dengan lebih banyak memberikan perhatian kepada keutuhan hidup bermasyarakat–menciptakan harmonisme dan hidup yang lebih dinamis dengan sekitar.

Segelintir orang dengan kepribadian mirip seperti diriku mungkin paham maksud dari tulisan ini. Adakalanya aku merasa tidak mempunyai upaya dan profesionalitas yang cukup baik untuk berkontribusi. Rasanya, orang-orang membelakangiku pada setiap hal yang kulakukan. Kegagalan terus mengikuti pada setiap pekerjaan. Pada akhirnya jatuh dan kebingungan dengan pertanyaan berulang, “Apa yang bisa kulakukan? Aku harus apa? Apa sebenarnya yang aku mau?” dll.

Mulailah aku mencoba beberapa hal. Dimulai dari mengingat kebiasaan masa kecil yang aku senangi dan mengulang kembali kegiatan tersebut di umur dua-puluhan ini. Kutelusuri lebih lanjut mengapa hal itu menyenangkan untuk dilakukan. Dewasa ini, tentunya lingkungan mengharapkan lebih dari hasil yang diberikan seorang anak kecil, maka kegiatan-kegiatan tersebut aku ubah dalam standar profesionalitas orang dewasa agar aku bisa ‘menikmati’ masa-masa kelabu pencarian tujuan hidup-umur dua puluhan. Beberapa diantaranya cukup untuk mengebulkan asap di dapur, lainnya hanya sebatas hobi semata.

Menjadi dewasa itu rumit dengan segelintir tanggung jawab dan pemenuhan kebutuhan biologis, psikologis, dan tuntutan masyarakat. Hidup tanpa pegangan akan mengarahkan kepada keputusasaan. Langkah awal yang cukup membantu bagiku adalah mencari kenyamanan dalam beberapa aktivitas, lalu kulanjutkan dengan melakukan pengembangan padanya. Semakin baik kita dalam melakukan kegiatan tertentu, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan diri. Ini bukan hasil riset melainkan pengalaman semata.

Seorang temanku berkata, bahwa ini adalah sebuah fase yang harus dilewati. Lamanya fase ini pada seseorang tergantung dari sikapnya. Penting untuk mengetahui mana yang sebaiknya dilakukan dan ditinggalkan. Tidak semua orang lahir dengan bekal pendidikan tentang kehidupan yang cukup. Ini mengenai kita yang menjalaninya, jangan salahkan lingkungan. Berpindahlah dari satu tempat ke lainnya jika diperlukan. Hingga saat ini pun, aku masih melakukan ‘percobaan-pecobaan’ yang aku pun tidak tau mengarah kemana. Aku hanya ingin coba, dan berdoa semoga Allah mengarahkanku ke kebaikan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s